Satelit Telkom-4 Lepas Landas 2018, Pancarkan Internet 100 Gbps

Jakarta - Satelit Telkom-4 dipastikan lepas landas pada 2018 mendatang. Pengganti dari Satelit Telkom-1 ini nantinya akan menggunakan teknologi broadband satelit yang bisa memancarkan akses internet 100 Gbps dari angkasa.

Menurut President Director TelkomMetra Teguh Wahyono, persiapan untuk peluncuran satelit ini tengah digodok agar nantinya bisa lepas landas dalam waktu dua tahun lagi dari sekarang. 

"Satelit Telkom-4 meluncur 2018. Tapi persiapannya dari sekarang karena untuk order satelit itu butuh waktu dua tahun," ujarnya saat ditemui detikINET di Kaffeine, Jakarta, Senin (4/4/2016).

Dijelaskan olehnya, strategi Telkom terus berinvestasi di teknologi satelit dikarenakan ada ribuan pulau di Indonesia yang terpisah oleh lautan dan belum bisa seluruhnya dijangkau oleh infrastruktur kabel maupun seluler.

Apalagi dari catatan Telkom, ada sekitar 30 juta rumah tangga yang belum tersentuh internet di Indonesia dan hanya bisa dilayani melalui satelit karena posisi mereka ada di wilayah terpencil, remote area. 

Untuk saat ini, satelit Telkom yang ada baru mampu menyediakan akses internet maksimal 2 Mbps untuk download dan maksimal 0,5 Mbps untuk upload. 

Dengan perkembangan internet yang semakin kaya konten multimedia, tentu saja akses itu bisa dibilang lambat. Telkom pun menyadari sepenuhnya akan hal itu.

"Kalau sekarang kan masih pakai transponder. Tapi nanti di Satelit Telkom-4 kan kita pakai teknologi broadband satellite. Jadi langsung sekian giga bandwidth-nya. Bisa sampai 100 Gbps," jelas Teguh.

Sementara belum lama ini, Space Systems Loral (SSL) mengumumkan telah ditunjuk oleh Telkom sebagai penyedia satelit Telkom-4 yang akan digunakan untuk layanan fixed satellite di Indonesia, India, dan Asia Tenggara.

"Bagi SSL ini adalah ketiga kalinya mendapat pesanan dari perusahaan asal Indonesia. Kami bangga bisa berkontribusi untuk pembangunan infrastuktur di Indonesia dan kawasan Asia," ungkap President SSL, John Celli.

Satelit Telkom-4 rencananya akan menggunakan platform SSL 1300 dan didesain untuk operasional selama 15 tahun.  

Direktur Utama Telkom Alex Janangkih Sinaga mengatakan, satelit dibutuhkan sebagai teknologi pelengkap karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau.

"Selain satelit kami gunakan kabel laut sebagai backbone menghubungkan pulau-pulau di Indonesia," katanya.

Sementara itu, Direktur Jaringan Telkom Abdus Somad Arief mengungkapkan, pada kuartal keempat 2016, akan diluncurkan satelit Telkom 3S. "Kalau Satelit Telkom-4 ini di 2018. Mohon doanya agar semua lancar," katanya.

Persiapan Satelit Telkom-3S

Sekadar diketahui, saat ini Telkom juga tengah menyiapkan peluncuran satelit yang akan mengadopsi C-Band dan Ku-Band, yakni Telkom 3S (substitution). 

Telkom 3S akan menempati slot orbit 118 derajat BT, sekaligus menggantikan satelit Telkom 3 yang gagal mencapai orbit pada Agustus 2012.

Telkom telah meneken perjanjian pembuatan satelit Telkom 3S dengan perusahaan asal Prancis-Italia, Thales Alenia Space senilai USD 199,7 juta pada 14 Juli 2014.

Satelit tersebut direncanakan berkapasitas 42 transponder yang terdiri dari 32 transponder C-Band dan 10 transponder Ku-Band. Telkom 3S dijadwalkan meluncur pada akhir 2016 atau awal 2017.

Sementara untuk Telkom-4 diperkirakan butuh investasi senilai USD 200 juta dan akan diluncurkan pada 2018. Satelit Telkom-4 akan menggantikan satelit Telkom-1 yang masa orbitnya berakhir pada 2018.

Satelit Telkom-1 diluncurkan pada 13 Agustus 1999 dan menempati slot orbit 108 derajat BT. Satelit tersebut diproduksi Lockhead Martin dari Amerika Serikat dan peluncurannya dilakukan oleh Arianespace dari Eropa. Satelit Telkom 1 memiliki kapasitas 24 transponder, dan beroperasi pada frekuensi C-Band.

Satelit Telkom-4 direncanakan membawa 60 transponder, sebanyak 36 transponder akan disewakan untuk kebutuhan domestik. Sedangkan sisa 24 transponder akan dipasarkan untuk India.

Per September 2015, Telkom memiliki nilai aset satelit, stasiun bumi dan peralatannya sekitar Rp 6,6 triliun. Pendapatan sewa tranponder satelit mencapai Rp 423 miliar, naik 21,5% dibanding periode sama tahun lalu Rp 348 miliar.

Telkom masih memiliki kantong tebal untuk mendanai pengadaan satelit karena  memiliki opsi Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi senilai Rp 5 triliun. 

Obligasi itu merupakan sisa dari PUB pada 2015 yang mencapai Rp 12 triliun. Dari hasil bersih obligasi tahun lalu, Telkom mengalokasikan dana Rp 6,06 triliun untuk pengembangan usaha dan sisanya Rp 921,91 miliar untuk akuisisi. (detikcom/rou/fyk)

Solusi hemat telekomunikasi untuk korporat bisa anda dapatkan melalui Mitratelecom Global Mandari - MGM.

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas